«

»

Jun 19

Kereta Lori Molek Alat Transportasi Khas di Lebong Tandai

Dari Napal Putih kemudian menuju ‘Stasiun’ Molek (sebutan bagi kereta lori berukuran 5 x 1 m, bermesin diesel 10 PK yang bermuatan maksimal 10 penumpang). Ongkos perorang adalah Rp 20.000. Stasiun ini terletak diujung desa, dipinggir sungai ketahun. Banyak Molek yang menunggu penumpang namun rata-rata terminal ini ramai pada hari Senin dan Kamis karena pada hari itu para penambang dari luar Kabupaten Bengkulu Utara misalnya dari Kabupaten Lebong dan Rejang Lebong berdatangan menuju desa Lebong Tandai. Perjalanan dengan menggunakan Molek menuju Lebong Tandai dilakukan sore hari yaitu sekitar pukul 17.00 WIB hal ini guna menghindari terjadinya tabrakan dikarenakan Molek dari Lebong Tandai tiba di Napal Putih pukul 16.00 WIB. Meningat jalur rel hanya satu, jika terpaksa bertemu dengan Molek yang lain yang berlawanan arah atau ada Molek yang macet dijalan maka salah satu Molek dapat disingkirkan keluar rel, cukup hanya dengan tenaga 3 orang Molek itu dapat diangkat keluar rel.

BENGKULU, KOMPAS.com — Mendengar kata “molek”, yang terbayang tentu adalah sosok perempuan berparas rupawan. Namun, molek yang satu ini adalah kereta mini peninggalan zaman penjajahan yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menyerupai mikrolet untuk sarana transportasi darat. Molek adalah kependekan dari motor lori ekspres.

Dengan pendorong mesin diesel dan didesain sedemikian rupa untuk memutar roda lori yang dihubungkan dengan rantai berukuran besar, molek dapat mengangkut hingga 12 penumpang.

Alat transportasi ini dapat ditemukan di Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara. Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat, Zikri, pada tahun 1997, lori yang selama ini digunakan warga diubah menjadi molek.

Molek diciptakan oleh Wan Tanggang, warga asli Lebong Tandai. Hal tersebut ditandai dengan pemasangan mesin diesel 10 PK. “Molek menggunakan mesin diesel, itu setelah adanya inovasi dari Wan Tanggang,” ujar Zikri.

Zikri menjelaskan, molek memiliki empat roda besi dengan jarak masing-masing sumbu roda lebih kurang 1,25 meter. Panjang badan lebih kurang 6 meter dan lebar sekitar 1,5 meter.

Dalam perjalanannya, molek dipandu oleh seorang masinis yang fungsinya mengatur kecepatan mesin diesel. Fungsi pemandu juga hampir sama seperti seorang masinis kereta api yang mengatur kelancaran jalannya kereta.

Kecepatan molek itu berkisar 10-15 kilometer per jam. Di dalam molek juga dipasangi bak kopling dari mobil Suzuki Futura atau bak mobil Zebra. Selain itu, molek pun memiliki persneling dengan 6 langkah, termasuk gigi mundur.

Di dalam molek ada juga setir, gas injak yang dimodifikasi, dan rem prodo. “Molek itu sama seperti mobil, ada setirnya, gas, rem. Hanya saja, semua itu dimodifikasi oleh warga untuk menggerakkan molek,” kata Zikri.

35 kilometerJalur yang dilewati molek (Air Tenang-Lebong Tandai) berjarak lebih kurang 35 kilometer dengan waktu tempuh rata-rata selama lebih kurang 4,5 jam. Namun, karena ada rel molek yang terputus pada awal November lalu, jarak tempuh mencapai 6 jam.

Setelah tiba di Stasiun Ronggeng yang memakan waktu dua jam, penumpang harus transit untuk menuju Lebong Tandai.

Dari Ronggeng, warga kembali transit di lokasi hutan yang dinamakan Sumpit. Dibutuhkan waktu 1,5 jam perjalanan lagi menuju lokasi ini karena, di lokasi tersebut, rel molek tertutup longsor. Dari Sumpit, warga baru menaiki molek menuju Lebong Tandai dengan memakan waktu sekitar 2,5 jam.

Molek berangkat pada pukul 07.01 WIB dari Stasiun Air Tenang hingga Stasiun Ronggeng. Tak banyak molek yang beroperasi. Biasanya mereka berangkat jika sudah ada komunikasi atau pesanan lebih dulu. Pesanan biasanya datang dari masyarakat Lebong Tandai yang ingin keluar desa untuk membeli kebutuhan pangan.

Penumpang harus membayar Rp 25.000 per orang, di luar barang bawaan. Itu pun biayanya sampai di Stasiun Ronggeng saja. Untuk menaiki molek tujuan Sumpit, warga juga dikenai biaya yang sama. Jadi, untuk satu kali perjalanan dari Air Tenang ke Lebong Tandai, ongkos per orang mencapai Rp 100.000.

Sejarah molek
Saat ini, tak banyak yang tahu jika di desa asal emas di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) ini terdapat sebuah jalur lori yang sangat terkenal pada zaman penjajahan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1940-an. Letaknya sekira 35 kilometer dari pusat Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara.

Rel lori masih terlihat sampai sekarang. Menurut Zikri, lori masih beroperasi sekitar tahun 1947. Rel lori dipakai untuk mengangkat emas zaman penjajahan, dari Desa Air Tenang hingga Desa Lebong Tandai.

Rel itu, kata dia, dibangun oleh Belanda pada tahun 1904. Namun, setelah Indonesia merdeka pada 1945, Belanda pada tahun 1947 pun meninggalkan Desa Lebong Tandai. “Pembangunan tersebut melibatkan warga asli Lebong Tandai, dengan sistem kerja paksa,” kata Zikri.

Jalur bersejarah dan unik peninggalan Hindia Belanda, kata Zikri, dibuka kembali oleh warga asli setempat pada tahun 1948, untuk menuju ke pusat kecamatan, serta memasok bahan pangan. Kala itu, warga menggunakan lori kodok. Artinya, kereta kecil yang menggunakan tenaga manusia dengan cara didorong dan pengereman menggunakan kayu.

“Setelah Belanda meninggalkan Lebong Tandai, lori milik Belanda masih digunakan warga. Sarana transportasi digunakan menuju ke pusat kecamatan dan mengangkut bahan pangan serta hasil penambangan emas,” kata Zikri. 

Sumber : http://wisatayukesini.blogspot.co.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>